Probiotik Penangkal Alergi

Selama 40 tahun terakhir, dilaporkan adanya peningkatan tajam pada angka kejadian penyakit akibat alergi yang sampai saat ini penyebabnya belum dapat diidentifikasi. Diduga, perubahan pada tingkat kebersihan masyarakat memberikan pengaruh besar dalam hal ini, yang salah satunya dikarenakan oleh penurunan paparan mikroba pada  masa kanak-kanak, yang juga berhubungan dengan pola mikrobiota komensal (menguntungkan) yang ada dalam tubuh. Seorang bayi sendiri, memiliki tubuh yang steril ketika dilahirkan sehingga komposisi mikrobiota dalam usus ditentukan oleh paparan dan asupan yang diberikan pada bayi. Gangguan pada komposisi mikroba usus memiliki peran penting dalam timbulnya penyakit alergi. Penelitian terhadap binatang menunjukan bahwa paparan dini terhadap mikrobiota komensal menurunkan kejadian dan dapat memodifikasi alergi. Maka, para peneliti menyimpulkan suatu konsep bahwa dengan memberikan paparan mikrobiota komensal sedini mungkin, bahkan sebelum kelahiran, dapat menurunkan angka kejadian penyakit alergi pada masyarakat. Mikrobiota komensal ini kemudian dikenal dengan istilah probiotik. Mari kenali probiotik penangkal alergi dengan lebih jauh.

Probiotik, sebagai analog dari antibiotik, adalah mikroorganisme hidup atau komponennya, yang diketahui memberikan keuntungan untuk kesehatan penjamu apabila diberikan dalam jumlah yang tepat. Ada 2 mekanisme probiotik yang diketahui dapat memberikan keuntungan; yang pertama adalah meningkatkan keseimbangan mikrobial dalam usus, yang secara langsung melalui kemampuannya menempel ke sel-sel dalam usus maupun tidak langsung melalui produksi zat anti bakterial seperti bacteriocin dan beberapa macam asam, menyebabkan berkurang atau hilangnya jumlah bakteri patogen dalam usus. Kedua, probiotik juga diketahui meningkatkan integritas mukosal, sehingga melindungi tubuh dari kontak langsung dengan bahan asing. Probiotik yang dikemas bersamaan dengan prebiotik (bahan-bahan yang mendukung kerja probiotik dalam tubuh, biasanya dalam bentuk serat seperti oligosakarida) dinamakan sinbiotik.

Sebagian besar dari penelitian yang dilakukan menggunakan bakteri yang berasal dari spesies Lactobacillus dan Bifidobacterium. Dosis umumnya antara 108 sampai 1010 CFU (colony forming units) dengan waktu pemberian 4-6 bulan sebelum kelahiran sampai dengan 3 bulan hingga 2 tahun setelah kelahiran. Sebelum kelahiran, probiotik diberikan dalam bentuk suplemen oral kepada ibu. Setelah kelahiran probiotik dapat tetap diberikan kepada ibu yang menyusui, atau diberikan langsung kepada bayi yang terpaksa harus meminum susu formula. Dosis pemberian probiotik antara 1x/hari sampai 3x/hari. Mereka yang dipilih untuk menjalani penelitian ini kebanyakan adalah bayi dengan risiko tinggi mengalami alergi karena ada riwayat alergi pada orang tua maupun first degree relatives. Dari penelitian ini ditemukan beberapa kesimpulan :

  1. Probiotik menurunkan risiko alergi pada kulit (eczema) secara signifikan.
  2. Angka kejadian alergi secara umum, paparan terhadap alergen (bahan yang membuat alergi), dan alergi makanan tidak berkurang dengan pemberian probiotik.
  3. Mengenai alergi pada pernafasan, masih diteliti lebih lanjut mengenai kemungkinan efek dari pemberian probiotik karena sampai saat ini hasil yang ada masih bervariasi.
  4. Keamanan pemberian probiotik selama kehamilan masih diteliti lagi lebih lanjut, namun hasil yang ada sampai saat ini, pemberian probiotik tidak berpengaruh pada kejadian operasi caesar, berat badan bayi, dan umur kehamilan.
  5. Secara imunologi, probiotik meningkatkan produksi beberapa zat mediator yang berperan pada kejadian alergi, sehingga ditengarai dapat meringankan keparahan saat terjadi alergi.

Dari hasil di atas, ada harapan baru bagi suami-istri dengan riwayat alergi yang berencana memiliki keturunan untuk menghindarkan anaknya dari kemungkinan alergi. Meski sampai saat ini baru terbatas pada alergi pada kulit, namun tidak menutup kemungkinan di kemudian hari seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, probiotik dapat digunakan untuk terapi alergi. Selain hasil dari penelitian diatas, probiotik sendiri telah lama digunakan dalam mengatasi masalah pencernaan umum pada anak, yaitu diare dan terbukti telah memberikan efek positif, bahkan telah digunakan sebagai salah satu tatalaksana penanganan diare. Jadi, maukah anda mulai memberikan probiotik sebagai salah satu suplementasi bagi anak anda? Selamat mencoba J

Referensi :

Zucotti GV et all. 2008. Probiotics in Clinical Practice : an overview diakses dari imr.sagepub.com

Murch SH. 2005. Probiotics as mainstream allergy therapy?. Arch Dis Child (Online) Jilid 90 Halaman 881-882 diakses dari www.archdischild.com

Gourbeyre P. May 2011. Probiotics, prebiotics and synbiotics : impact on the gut immune system and allergic reactions. Journal of Leukocyte Biology (Online) Vol 89. diakses dari www.jleukbio.org View shared post

Nowak. 2003. Future Approaches to Food Allergy. Pediatrics vol 111 no.6 (Online) diakses dari pediatrics.aappublications.org

www.uptodate.com/contents/prebiotics-and-probiotics-for-prevention-of-allergic-disease

,

About dr. Gabrielle Juliana Hartono

GP @ Siloam Hospitals Surabaya
View all posts by dr. Gabrielle Juliana Hartono →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *