Menyusui saat bulan Ramadahan

Selama bulan Ramadan, 86% dari 246 juta jiwa penduduk Indonesia rata-rata akan menjalankan puasa selama 13,5 jam per hari selama satu bulan. Bagi ibu yang memberikan ASI bagi bayinya, hal ini akan menimbulkan beberapa pertanyaan. Apakah boleh dan aman bila Ibu Menyusui Puasa Ramadan? Apakah produksi ASI akan terganggu atau kualitas ASI akan menurun bila ibu yang sedang menyusui menjalankan ibadah puasa Ramadan? Semoga melalui artikel ini, menyusui saat bulan Ramadhan tak lagi menimbulkan kebingungan bagi para ibu, tapi dapat makin memantapkan ibadah puasanya.

Saat ini beberapa penelitian sudah dilaksanakan di beberapa negara  dengan penduduk mayoritas beragama muslim membuktikan bahwa berpuasa selama bulan Ramadan tetap aman dan baik bagi ibu menyusui dan bayinya. Penelitian Prentice dkk. menyimpulkan bahwa puasa selama bulan Ramadhan tidak menimbulkan perubahan berarti pada  metabolisme ibu menyusui.

Banyaknya ASI yang diproduksi dan dikeluarkan dari payudara seorang ibu, sesungguhnya diatur oleh isapan bayi. Makin sering bayi mengisap, makin sering ASI dikeluarkan dan diproduksi di payudara. Ini menyerupai prinsip ‘produksi sesuai kebutuhan’ atau supply meet demand.

Proses menyusu memberi rangsangan sensoris ke Hipotalamus (kelenjar pada otak) untuk memproduksi hormon prolaktin dan oksitosin. Hormon prolaktin memberi ransangan pada sel-sel dalam payudara untuk memproduksi ASI, sedangkan hormon oksitosin menyebabkan otot-otot payudara berkontraksi, dan memompa ASI keluar dari puting.

Untuk mengetahui produksi ASI sudah mencukupi kebutuhan bayi atau belum, dapat digunakan beberapa parameter yang objektif pada bayi yakni berat badan bayi dan frekuensi buang air kecil dari bayi. Kualitas ASI akan tetap baik selama status gizi ibu baik atau sedang. Sementara jika seorang ibu menderita gizi buruk kualitas ASI akan berubah. Ibu yang menderita gizi buruk seperti kwasiorkor atau marasmus tetap bisa menghasilkan sekitar 500ml ASI jika bayinya sering menyusu.

Kebutuhan gizi ibu menyusui sedikit berbeda dengan ibu yang tidak menyusui. Ibu menyusui membutuhkan tambahan 700 kalori untuk membantu keberlangsungan produksi ASI. Dimana 500 kilo kalori diperoleh dari makanan dan 200 kilo kalori diperoleh dari metabolisme di tubuh.

Sama seperti saat hamil, ibu yang sedang menyusui juga harus tetap memperhatikan asupan gizi mereka. Seperti yang tercantum di situs Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), ibu menyusui sebaiknya tetap makan tiga kali sehari selama menjalankan ibadah puasa, yaitu saat sahur, buka puasa dan setelah salat Tarawih. Ibu juga sebaiknya mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang, yaitu dengan komposisi 50% karbohidrat, 30% protein dan 10-20% lemak. Ibu yang sedang menyusui juga harus minum lebih banyak air untuk menghindari dehidrasi.

Pikiran positif dan percaya diri merupakan modal utama. Selama Ibu merasa kuat silakan menjalankan ibadah puasa, namun apabila ibu merasa tidak sanggup lebih baik tidak dipaksakan. Ibu menyusui yang ingin tetap berpuasa sebaiknya juga mengetahui kemampuan diri masing-masing. Hal itu karena kondisi setiap ibu berbeda-beda. Beberapa pakar laktasi akan menyarankan ibu yang masih memiliki bayi di bawah usia enam bulan untuk tidak berpuasa. Hal itu karena satu-satunya sumber nutrisi bagi bayi berumur dibawah 6 bulan adalah ASI. Sehingga ibu sering disarankan untuk menunda dulu ibadah puasanya.

Ibu yang memiliki bayi usia enam bulan ke atas, dimana bayi ssudah mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI, akan mendapatkan MPASI boleh berpuasa dan dipersilakan. Namun apabila disaat menjalankan ibadah puasa, ibu yang sedang menyusui merasa  tidak kuat, mengalami pusing, merasa ada perubahan pada volume produksi ASI-nya, pelaksanaan puasa perlu untuk dipikirkan kembali.

 

Referensi:

Van Ewijk R. Long-term health effects on the next generation of Ramadan fasting during pregnancy. J Health Econ 2011;30(6):1246–1260.

Martorell R, Khan LK, Schroeder DG. Reversibility of stunting: epidemiological findings in children from developing countries. Eur J Clin Nutr 1994;48(suppl 1):45S-57S.

Kiziltan G, Karabudak E, Tuncay G, et al. Dietary intake and nutritional status of Turkish pregnant women during Ramadan. Saudi Med J 2005;26(11):1782–1787.

Prentice AM, Prentice A, Lamto WH, et al. Metabolic consequences of fasting during Ramadan in pregnant and lactating women. Hum Nutr Clin Nutr 1983;37(4):283–294.

www.aimi-asi.org

, , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *