Mengenal Kemasan BPA Free

Seringkali kita melihat label “BPA free” pada botol minum berbahan dasar plastic yang banyak dijual di pasaran. Sebenarnya apa BPA itu? Apa dampaknya bagi kesehatan dan apakah BPA free sudah menjamin bahwa botol minum tersebut aman? Melalui artikel ini mari kita ulas lebih mengenal kemasan BPA free dan tingkat keamanannya.

BPA berasal dari kata Bisphenol A, suatu zat kimia yang secara luas digunakan dalam produksi plastik polikarbonat dan epoksi resin. Plastik polikarbonat banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai kemasan makanan dan minuman, seperti botol minum, botol susu bayi, compact disc (CD) dan alat-alat kesehatan. Sedangkan epoksi resin digunakan sebagai pelapis produk metal seperti kaleng makanan, tutup botol, dan pipa air.

Perhatian diberikan pada BPA ini sejak tahun 2003, ketika studi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menemukan adanya BPA dalam air seni pada 93%  dari 2517 individu berusia 6 tahun ke atas. BPA ini dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, seperti infertilitas atau penurunan kesuburan, diabetes, dan feminisasi (perkembangan ke arah perempuan) dari bayi laki-laki. Hal ini disebabkan karena pada percobaan binatang, BPA memiliki kemampuan yang menyerupai hormon estrogen, yaitu hormon yang banyak terdapat pada wanita.

Sumber masuknya BPA ke dalam tubuh terutama adalah dari makanan dan minuman, sedangkan udara, debu, dan air adalah sumber lain paparan BPA bagi tubuh. BPA dari kemasan makanan dan minuman dapat mengkontamninasi makanan melalui penggunaan peralatan makan yang terbuat dari polikarbonat, wadah penyimpanan makanan, botol air minum, dan botol susu bayi. Banyaknya BPA yang terdapat dalam makanan dipengaruhi oleh temperatur dari cairan atau kemasan tersebut, dan tidak terlalu dipengaruhi oleh penggunaan kemasan plastik yang berulang.

Pada tahun 2009, pemerintah Kanada melakukan pemeriksaan pada botol yang bertanda “BPA Free” pada botol non-polikarbonat dan masih menemukan adanya kandungan BPA di dalamnya. Namun hal ini tidak menimbulkan hal yang berarti karena kandungannya sangat sedikit dan dianggap tidak mengganggu kesehatan. Hingga saat ini belum ditetapkan batas aman kadar BPA yang dapat terkandung dalam kemasan, sehingga pemberian label “BPA Free” masih belum dapat menjamin bahwa tidak ada BPA dalam kemasan tersebut, hanya saja kadarnya sangat rendah dan tidak membahayakan.

Bayi dan anak-anak merupakan kelompok yang rentan terhadap pengaruh BPA, oleh karena itu paparan BPA dapat diminimalkan dengan cara sebagai berikut:

  • Tidak memanaskan makanan dalam kemasan plastik polikarbonat menggunakan microwave.
  • Kemasan plastic memiliki kode penggunaan ulang / recycle pada bagian bawah. Sebagian, namun tidak semua plastic yang memiliki kode 3 atau 7 dapat mengandung BPA.
  • Kurangi penggunaan makanan kalengan
  • Bila memungkinkan gunakan kemasan yang terbuat dari kaca/gelas, porselen, stainless steel, terutama untuk makanan yang panas atau cairan.
  • Gunakan botol susu bayi yang tidak mengandung BPA / BPA Free

 

Referensi

http://www.niehs.nih.gov/

http://www.cbc.ca/

, ,

About dr. Sylvia Irawati

View all posts by dr. Sylvia Irawati →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *