Alergi Susu Sapi pada Anak

Secara umum, reaksi alergi terhadap makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh merespon secara tidak tepat terhadap suatu bahan/elemen dalam makanan tertentu. Hal ini dikenal dengan alergi makanan. Alergi susu sapi pada anak merupakan jenis alergi makanan yang paling sering dijumpai, terutama pada bayi dan anak-anak berusia kurang dari 3 tahun. Sekitar 2-3% bayi berusia kurang dari satu tahun akan mengalami alergi terhadap susu sapi.  Untungnya, alergi ini dapat hilang dengan sendirinya ketika sang anak berusia lebih dari 3 tahun.

Anak-anak yang berasal dari keluarga yang memiliki sejarah panjang alergi berisiko lebih besar untuk mengalami alergi makanan dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki riwayat alergi dalam keluarga. Akan tetapi, bahkan bayi dan anak-anak yang sama sekali tidak memiliki riwayat alergi dalam keluarga dapat memiliki gejala alergi.

Alergi susu sapi berbeda dengan intoleransi laktosa (ketidakmampuan untuk mentoleransi laktosa sebagai salah satu komponen susu) karena pada alergi susu sapi terdapat reaksi imunologis, dimana sistem kekebalan tubuh merespon secara tidak tepat terhadap satu protein atau lebih yang terkandung di dalam susu sapi. Sedangkan pada intoleransi laktosa, tubuh manusia tidak dapat mencerna komponen gula dalam susu yang dikenal dengan laktosa dan hal ini tidak terjadi akibat reaksi kekebalan tubuh.

Elemen yang menimbulkan reaksi alergi adalah kandungan protein di dalam susu sapi tersebut. Protein susu sapi yang paling banyak menyebabkan alergi adalah kasein dan whey. Kasein merupakan bagian dari susu sapi yang kental atau yang sudah mengendap (mengandung 70-80% protein) dan whey adalah bagian susu sapi yang cair yang terletak diatas bagian susu yang telah mengendap (kasein).

Reaksi alergi pada umumnya timbul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah mengkonsumsi susu sapi. Tanda dan gejala yang timbul bisa sedang sampai dengan berat, seperti sesak nafas, muntah-muntah, diare, serta ruam-ruam gatal pada kulit. Tanda-tanda dan gejala-gejala ini dapat membuat sang anak gelisah dan terus menerus menangis. Selain itu, tidak ada perbedaan tanda dan gejala alergi pad anak ASI eksklusif dan anak dengan susu formula. Patut diingat, alergi susu sapi juga dapat menimbulkan reaksi alergi anaphylaxis, suatu gejala alergi yang dapat mengancam nyawa.

Satu-satunya cara untuk mencegah alergi susu sapi adalah dengan menghindari sang alergen atau pencetus alergi. Menyusui, atau lebih baik, ASI eksklusif, harus dipromosikan untuk pencegahan primer alergi. Beberapa alternatif lain adalah susu soya dan susu formula hipoalergenik. Selain itu, test eliminasi alergen dapat dilakukan pada bayi menyusui yang telah terbukti secara klinis memiliki alergi susu sapi.

 

Referensi:

Brill, H. Approach to milk protein allergy in infants. Can Fam Physician. 2008 September; 54(9): 1258-1264.

Cow’s Milk Allergy [homepage on the Internet]. United Kingdom: Cow’s Milk Allergy; [cited 2013 July 20]. Available from: http://www.cowsmilkallergy.co.uk/

Milk allergy [homepage on the Internet]. Rochester, Minnesota: Mayo Clinic; [updated 2011 August 11; cited 2013 July 20]. Available from: http://www.mayoclinic.com/health/milk-allergy/DS01008

, ,

About dr. Tiffany Carissa Banunaek

View all posts by dr. Tiffany Carissa Banunaek →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *